Akhirnya Senyum Roman Mengembang
Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan tulisan sebelumnya berjudul “Menunggu Wajah Ambramovich Suminggrah (?)”
Ya, wajah Roman benar-benar suminggrah ketika tendangan penalti ke 5 Didier Drogba mengecoh kiper Bayern Muenchen Manuel Nuer dan kedudukan menjadi 4-3 bagi Chelsea. Sontak stadion Allianz, yang adalah kandang FC Hollywood bergemuruh oleh teriakan penduduk The Blues Chelsea.
Chelsea menjadi klub dari kota London pertama berhasil menggondol Piala Champions musim 2011-2012. Cita-cita awal Roman Abramovich yang mulai mengendalikan Chelsea sejak sembilan tahun lalu berhasil.
Bahkan aksi dramatisnya tertangkap kamera ketika Didier mencetak gol kemenangan, Roman langsung memeluk John Terry sang kapten yang tak bermain karena akumulasi. Di lorong menjelang pasukan Chlesea menerima piala, Roberto Di Matteo-pun sempat memeluk Roman dan bilang, Saya berikan Piala ini untuk mu!
Ya, kesempatan mengangkat si Kuping besar kesampaian juga bagi taipan asal Rusia itu. Apakah Roman puas? Tidak juga, karena targetnya bertambah besar. Roman ingin Chelsea sejajar dengan klub-klub besar di Eropa lainnya.
Roman menginginkan Chelsea meraih 4 Piala Champions, kata Bruce Buck, Chairman Chelsea pada seluruh staf dan pemain Chelsea ketika ia menyampaikan pidato selamat atas kemenangan itu.
Jelas memang, Roman bukan sembarangan untuk membeli Chelsea di tahun 2003 lalu. Ia ingin Stamford Bridge mengkoleksi Si Kuping Besar 4 kali sebagai dasar menjadi klub yang sama dengan Manchester United atau Real Madrid.
Tidak heran ambisinya itu harus diwujudkan, meski pertimbangan untuk mempermanenkan Di Matteo masih tersendat-sendat. Terakhir, pelatih asal Italia itu ‘cuma’ ditawari satu tahun kontrak dan Di Matteo pun belum beri sinyal mau.
Roman memang ingin senyumnya terus mengembang, bukan hanya di Liga Primer Inggris sendiri tetapi juga di Eropa. Hati kecilnya masih kurang ‘sreg’ dengan pelatih sekarang meski menjadi pelatih ‘sementara’ yang berhasil menyumbangkan Piala Champions dibanding pelatih-pelatih sebelumnya yang kaya pengalaman tapi tidak berhasil menyumbang Piala Champions.
Senyum Roman bisa diibaratkan, suatu tanda tanya besar untuk tetap ikut bersaing dengan klub-klub papan atas di Inggris yang juga jor-joran ngeluarin duit untuk memperkuat skuadnya.
Musim 2012/2013 masih beberapa bulan lagi, Roman sudah mulai siap-siap unjuk uang untuk membuat senyum itu mengembang lagi di akhir musim.
Buncit, Seksi atau Malu
Minggu lalu baru ketemu teman-teman dalam acara reuni. Jelas gembira. Mengangkat kenangan-kenangan yang menjadi topik nomer satu dari reunian itu.
Selain membahas kenangan, satu hal yang jadi bahan tertawaan bersama adalah, kalau laki-laki berperut buncit dan yang perempuan, mulai melar. (Ini sungguh bukan mau menjelek-jelekan yang berperut buncit atau yang berbadan melar…)
Tapi membicarakan buncit dan melar memang selalu diikuti dengan tawa. Itu yang menjadikan suasana reuni menjadi hangat dan ceria.
Tapi lepas dari acara itu, pikiran buncit masih tertera, bahkan tajam. Apa betul sebegitu buncitnya?
Banyak teman yang saran, kurangi makan, sit-up yang banyak dan teratur serta lainnya. Tapi betul juga jangan sampai sumber penyakit kalau kelebihan lemak, seperti sakit jantung, migrain, dan lainnya.
Tapi ada seorang teman lain nasehatkan agak berbeda dari yang lainnya. Teman ini bilang begini,”Ah, jangan terlalu diambil hatilah nasehat-nasehat itu. Kalau mau buncit berkurang, banyak minum air putih dan kalau makan ya makan aja.”
Saya mikir, kok gitu?
Teman ini malah tersenyum dan dia kasih penjelasan. “Kalau kamu mengikuti apa yang jadi keinginan tubuh saat lapar, malah bagus karena dalam kondisi lapar justru cenderung makan lebih sedikit dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, lagi pengen makan bakso, mungkin saja ia akan makan selama beberapa hari dan tubuh bisa langsung bereaksi dengan merasa bosan dan kemudian mengurangi permintaan makan bakso. Tapi jangan juga lo hajar makan bakso sampai 4 mangkok! hehehe..”
Ada satu lagi yang perlu diperhatikan, kata teman ini. “Kalau lo dah berhasil kurangi lemak di perut, coba latihan senam perut. Senam perut itu lo tahan nafas, tarik nafas, hembuskan, 15 menit aja, lo senam perut, maka perut la ngga bakalan buncit lagi, coba deh.”
“Tapi gua heran, kenapa ada juga perempuan yang suka kalo lakinya buncit, katanya seksi!”
“Hahaha, lo mau seksi apa penyakitan? itu tergantung elo!”
Tak Terduga dan Menggoda
Ini perjalanan yang tak terduga. Tiba di Balikpapan hampir pukul 10 malam. Dengan jemputan, tadinya mengira langsung dihantar kepenginapan. Tanpa babibu diajak ke pinggir jalan Mulawarman yang banyak jualan dan berhenti di penjual durian.
Ah, ini yang tidak enak. Tidak enak bukan duriannya, saya-nya tak enak menolak ajakan teman untuk mencicipi durian yang betul-betul saya tidak sukai.
Teman ini dengan lincah memeriksa durian mentega yang besarnya mengalahkan durian montong. Tawar menawar sebentar dan sepakat, membeli satu durian yang dihargai sekilonya 40 ribu. Pilihan teman ini memang tepat, ada sekitar 5 kilo durian mentega pilihannya. Besar betul!
Maka dibelahlah perlahan-lahan durian mentega itu. Saya kaget! daging di dalamnya besar sekali. Sebesar telapak tangan orang dewasa dengan biji yang kecil pula.
Rasanya, nah ini, karena saya tidak suka durian saya berusaha menutupi ketidaksukaan saya dengan mengambilnya satu biji dan jika teman tak melihat saya makan akan saya buang ke pinggir got. (sory kawan…)
Saya cicipi sedikit…..dan…saya terbelalak. Saya belum pernah mencicipi durian seumur hidup karena baunya yang saya tidak suka. Tapi durian mentega mematahkan ketidakenakan saya selama ini.
Rasanya…saya sulit menjelaskannya. Saya cuma tersenyum dan menunjukkan jempol kiri saya padanya.
Untuk makan satu biji saja cukup membuat perut saya yang belum ketemu nasi seharian, jadi kenyang. Saya menolak ketika ditawari biji kedua. Sambil menepuk-nepuk perut saya dan bilang, kenyang gila!
Kata sipenjual, di Balikpapan tidak kenal musim durian, selalu ada setiap saat. Teman saya tertawa menanggapi, dia bilang, kemarin bersama 4 orang temannya tidak habis menyantap durian mentega itu. “Kekenyangan makan satu aja!”
Ah,ini kejutan yang tak terduga buat saya. Baru menginjak kembali ke Balikpapan, durian mentega mematahkan puasa saya seumur hidup tidak makan durian! (ah, sayang foto ketika saya makan tidak dilakukan).
Tak terduga dan menggoda saya untuk cicipi lagi, edan! (terima kasih Tuhan sudah ciptain durian mentega!)
Melawan dengan Cerdik
Chelsea, satu-satunya klub Inggris yang lolos ke fase semifinal Liga Champion musim ini bukan menjadi favorit. sejumlah rumah taruhan menempati klub milik Roman Abramovich itu di posisi akhir. Sebaliknya, klub lawannya yang disebut-sebut paling hebat di dunia, Barcelona berada di peringkat atas.
Wajar, jika klub dengan julukan The Blues itu dianggap sebagai pelengkap di babak semifinal ini. Bahkan, pelatih Real Madrid Jose Mourinho yang pernah memberi 6 gelar pada Chelsea bilang, Barca sudah ada di final! “Bagi saya, pertanyaan besar adalah siapa yang akan bermain melawan Barca di laga final. Bayern versus Madrid akan menjadi semifinal hebat dan tim terbaik akan menghadapi Barca.”
Kalau diselisik, kekuatan Chelsea untuk menghadapi Barca memang beda jauh. Selama babak penyisihan hingga ke semifinal, Barcelona sudah menang 8 kali dengan rata-rata menyarangkan gol ke gawang lawan lebih dari 3 (hanya lawan Plazen mencetak 2 gol). Sementara Chelsea, dari 8 kali bermain, 1 kali kalah, 2 kali seri dan 5 kali memang.
Bisa jadi fakta itu dan kondisi di liga domestik yang masih kerja keras untuk masuk ke liga Champions membuat Mourinho bilang, Chelsea tidak bisa menang atas Barca.
Fakta lain dari penampilan pasukan pelatih Roberto Di Matteo memang bisa dibilang pas-pas-an. Tengok sang kapten John Terry yang kondisinya rentan cedera dan kalah gesit dibanding dengan barisan depan Barca. Belum lagi gelandang Frank Lampard yang harus diakui sudah mulai kedodoran. Dari head to head Chelsea dan Barca, klub kota Catalan itu memang jempol.
Tapi tunggu dulu, bisa saja Di Matteo belum terbukti secanggih Pep namun para pemain Chelsea yang langganan Liga Champions pasti punya cara untuk mengatasi kegesitan Lionel Mesi.
Kuncinya, harus cerdik! John Terry haruslah tetap tegas untuk menghalau serangan Mesi tanpa menekel keras. David Luiz, juga jangan sering-sering naik tapi konsen saja menahan serangan. Frank Lampard di tengah, harus lebih sering cepat memberikan bola-bola matang ke Mata dan Ramirez sehingga pasokan bola ke Drogba atau Toress bahkan Kalaou lancar.
Faktor teknis lainnya adalah bermain di semifinal pertama di Stamford Bridge haruslah dimanfaatkan sebesar-besar untuk memasukan minimal 2 gol ke gawang Barca!
Cerdik, ya itu barangkali yang harus diakali Di Matteo pada anak asuhnya sehingga bisa nyerang balik dan cepat bertahan. Sekali lagi harus cerdik menekel sehingga tidak diganjar penalty pada 17 April mendatang.
hibur diri
Di tengah hutan susah untuk cari hiburan. Yang ada hanya suara serangga malam mengalahkan kerasnya suara diesel sumber listrik di barak.
Dari jauh nampak cahaya kecil obor. Lama-lama membesar.
“Paman handak kemana?”
“Oi, ulun handak kesana na. Tiring arai na, pian ayo ikut!”
“Tidak paman, terima kasih”‘
“Ya lah”
Itu adalah ajakan ke tempat hiburan. Di kampung seberang sedang ada pesta. Pesta yang dimaksud adalah seorang warga melakukan hajatan. Hajatan ini jangan dibayangkan acara hiburan besar-besaran, hajatan di tempat itu ditandai dengan memutar kaset dengan volume yang sangat besar, sehingga warga dari kampung yang lain datang dan bisa menikmati kegembiraan bersama.
Ajakan dalam bahasa Banjar tu baru dipahami setelah tinggal di tengah hutan Pulau Sebuku, pulau kecil yang terpisah dari pulau di Kalimantan.
Iring-iringan obor semakin banyak. Seperti berbaris rapi merayap dalam alang-alang tinggi, cantik sekali malam itu dengan nyala obor kecil-kecil.
Hiburan menjadi barang langka di pulau itu. Selama sebulan tinggal di daerah itu, baru malam ini nampak barisan obor berjejer rapih beriringan. Dari radio antar penduduk baru diketahui, ada warga yang mengadakan hajatan.
Hiburan meski hanya memutar kaset dengan volume besar-besar menjadi barang yang langka. Pemandangan yang akrab adalah setiap warga bertani, berburu dan memanfaatkan isi hutan. Bagi saya tugas itu menyenagkan dan membosankan. Menyenangkan bila terang hari dengan menempuh berkilo-kilo meter menyusuri hingga masuk ke jantung hutan. Membosankan bila malam tiba, hanya suara serangga penghiasnya.
Selalu kagum dengan warga yang masih bisa tinggal di tengah-tengah hutan yang jika dibayangkan sudah tidak ada kehidupan. Namun kenyataannya masih ada orang bahkan beberapa kelompok keluarga yang tinggal jauh dari pusat keramaian.
Jadi ingat, perkataan Pak Amat, orang yang menemani memasuki hutan. “Orang di sini percaya kalau hiburan dan harapan kehidupan mereka adalah hutan ini. Jadi kalau mereka ke ladang subuh-subuh, bukan hanya mempersiapkan tanah tapi juga menikmati isinya. Seperti ini na, daging ni,” kata pak Amat sambil tersenyum menyodorkan sepotong daging kancil yang gurih.
Iring-iringan obor mengecil dan hilang dari kejauhan samar-samar suara musik menghias hutan Pulau Sebuku malam itu.
Hope will make us smile, Hope makes our heads remain erect staring far forward, as so many challenges that obstruct.
Menunggu
“Sampai kapan?”
“Beri waktu satu bulan ini.”
“Pasti nggak?”
…….
“Mudah-mudahan terjadi ya…”
Menatapnya …dan mengganguk pelan.
———
“Itu tempatnya?”
“Iya”
“Bagus nggak?”
“Bagus menurutku”
“Sudah pasti nggak bisa turun?”
“Iya”
“Agak berat ya”
“Iya”
“Ya udah, tunggu saja dalam sebulan”
“Iya”
“Kalau memang jodoh, pasti jadi milik kita”
“Itu jodoh namanya?”
“Iya”
—————–
Laki-laki dengan kemeja lengan panjang warna biru muda hampir sama dengan warna langit jelang sore, dan celana coklat krem, menunggu.
Sudah hampir 60 menit. Diliriknya jam kuning bertali coklat, hampir pukul 7 malam, masih sore.
Laki-laki itu membayangkan yang ditunggu. Senyum manis, berkaca mata, mengenakan busana simpel dan serasi. Ia masih menunggu.
Meski sudah agak gelap, langit nampak agak mendung, musim hujan sudah lewat, mungkin sebentar lagi gerimis terakir akan turun di akhir bulan ini.
Sebelum gerimis menyentuh ujung rambutnya, ada yang menyentuh pundaknya, perempuan yang punya senyum manis berkacamata itu.
“Sudah lama nunggu?”
“Belum”
Digenggamnya tangan laki-laki itu dengan erat.
“Kangen”
“Sama”
Dan laki-laki berkemeja bbiru muda lengan panjang dan celna coklat krem itu pun menurut ketika gandengan itu mengajaknya pergi.
Dan sore jelang itu tak tahan dengan gerimis. Semoga tak sia-sia.
Verpes dan Kong Sarip
Dalam beberapa minggu ini, gusar karena soal berteduh hinggap di depan mata. Jadinya tidak ada konstrasi penuh, serba setengah. Agak sulit berbagi kalau kondisi hati seperti itu.
Malam itu, lewat sebuah tempat tambal ban dan pencucian motor di Pekapuran. Pukul 20.30, tidak hujan hanya angin yang agak kencang. Menunggu antrean, iseng untuk memperhatikan sekeliling bengkel tambal ban yang tidak terlalu besar. Yang membuat besar adalah tempat cuci motor. Ada sekitar 5 motor yang berjejer. 3 sudah mengkilat dan 2 masih dibersihkan.
Kong Sarip, begitulah pemilik tempat itu. Usianya 70 tahun lebih. Malam itu bertelanjang dada mengerjakan ban sepeda motor yang bocor. Rokok kretek di ujung mulutnya sesekali mengepulkan asap. Tangannya masih cekatan membongkar ban yang akan ditambal.
Iseng membuka percakapan dengannya. “Masih awas pak?” Dan dari mulutnya, Kong Sarip pensiunan pegawai negeri P dan K zaman dulu. “Sudah 12 tahun saya pensiun. Ya, ini usaha saya sekarang. Dari pada iseng, hasilnya untuk cucu aja dan nggak ngerpotin orang laen.”
Pujian bahwa Kong Sarip masih nampak kuat dan kekar memang bukan sembarangan. Meski usia malam sudah hampir pukul 9 malam, Kong Sarip tidak merasa dingin. “Udah biasa kayak gini. Malah kalo saya pake baju, tetangga-tetangga pada heran. Pasti Kong Sarip sakit kalao sudah rapih.”
Hampir 2 jam ngobrol sama Kong Sarip, mulai dari masa awal kerja sampai kebiasaannya jalan pagi dengan telanjang kaki lepas subuh, justru jadi pengingat.
“Jadi pegawai negeri kan gajinya besar ya Kong?” Kong Sarip hanya tertawa, giginya masih lengkap meski berwarna agak hitan di bagian samping. “Soal gaji, engkong pegawai kecil.Tapi cukuplah untuk ngidupin anak-anak sampai sekarang.” Masih soal pendapatan, Kong Sarip bercerita, dia orang yang sederhana. Cukup untuk makan dan anak-anaknya bisa sekolah. Soal gaji, Kong Sarip tiba-tiba saja omong, sedih kalau lihat pegawai negeri sekarang. “Banyak yang nggak puas kali ya, padahal udah lebih,” katanya.
“Engkong nggak rajin-rajin jalanin agama juga tapi engkong percaya kalo kita baik dan jujur, kita pasti cukup,” katanya. Percakapannya terhenti karena Kong Sarip harus melepas pelapis tambalan karena sudah masak.
Seneng dengar cerita Kong Sarip, soal mengisi kehidupan dengan baik dan jujur, itu yang utama. Baik dan jujur, meski banyak orang tidak cukup dengan dua hal itu, tapi bagi Kong Sarip itu cukup. Ini barangkali jawaban tingkat awal dari kegelisahan hati. Mengutip arti kata ‘vesper, doa malam bisa juga terjawab dengan situasi meski kadang kelihatannya tak ada hubungannya.
*verpes : semoga terkabul, …. besi menajamkan besi dan orang menajamkan sesamanya…
Jalan Kote
Saat pergi ke Jalan Kote ( kalau menurut saya seperti gang pas untuk satu mobil), Bandung. Sebenarnya jalan biasa seperti jalan-jalan kecil lainnya di Bandung. Cuma ada yang istimewa di jalan itu. Setidaknya menurut pandangan saya dan juga kata orang. Kenapa istimewa? karena di jalan itu ada tukang roti bakar. Dari iseng saya yang baru tahu tempat itu, tukang roti bakar di jalan itu menyebut, Roti Bakar Gang Kote, padahal nama aslinya Roti Bakar 234 (seperti merek rokok terkenal itu).
Lokasi roti bakar Jalan Kote strategis, berada di ujung sebuah gang kecil yang terletak di jalan utama kota Bandung. Yaitu di antara perempatan Jalan Sudirman dengan Jalan Pasar Baru (dari stasion kereta) dan perempatan Jalan Sudirman dengan Jalan Gardu Jati. Nah dari lampu merah perempatan Sudirman – Pasar Baru, Jalan Kote bisa ditempauh dengan jalan kaki kira-kira 50 meter di sebelah kiri.( mudah-mudahan betul arah yang saya terangkan, kalau salah maaf ya…)
Seperti jalan-jalan yang punya tempat makanan yang terkenal, di jalan itu juga berderet tempat parkir. Sehingga orang yang ingin membeli roti bakar Jalan Kote, tinggal pesen, tunggu, bayar dan bawa pulang. Tapi, bisa juga menikmati roti di tempat itu. Saat tidak sempat mengajak teman dekat saya untuk berkunjung kesana. Tempatnya seperti lesehan di Jogja. Tidak tersedia kursi dan meja.
Soal tempat memang agak unik tapi rasa rotinya, asik.Ya, namanya roti bakar, roti yang diolah lalu dibakar. Isi yang ditawarkan, seperti umumnya, yaitu keju, selai kacang, kornet dan coklat. Jadi, apa pembedanya? Ya itu tadi, suasana dan kata pemiliknya karena rotinya agak beda dengan yang lain. Rotinya agak tebal dan yang ditawarkan ada dua jenis. Bentuk kotak dan agak bulat seperti roti tawar pada umumnya. Dibuat tebal karena irisannya dalam log roti dibagi dalam 6 potong ( yang biasanya 10 – 12 potong).
Jadi, karena nunggu jadwal tiket travel pukul 10 malam, saya sempat mampir ke Jalan Kote, pesan 2 porsi untuk perjalanan. Kata si penjual, saya beruntung karena pesanan saya yang terakhir dan puluhan lainnya tidak beruntung karena rotinya habis.
Roti bakar Jalan Kote beruntung memang, promosi dari mulut ke mulut membuat tempat itu dipadati pengunjung lepas pukul 7 malam. “Ya, biasanya kami tidak sampai malam sekali, paling-paling lewat jam 10 atau bahkan jam 9!” kata si penjual lagi menjawab pertanyaan saya.
Besok kalau ke Bandung lagi, saya ingin mampir ke Jalan Kote agak maleman.
Kue Pak Jijing
Pak Jijing tetangga Ibu di perbatasan Depok – Bogor. Usianya kira-kira 58 tahun, ia tinggal bersama istrinya yang beberapa waktu terserang stroke. Pak Jijing, kata Ibu saya adalah tetangga yang baik. Baik karena bukan hanya peduli pada tetangga sekitar tetapi Pak Jijing suka nolong.
Kalau pagi menjelang, sebelum ia membuka warung kelontong di belakang rumahnya, ia sempatkan berolahraga jalan kaki 15 menit. Nah, saat olahraga jalan kaki itu, ia sering menyapa tetangga kiri kanan. Karena keramahan Pak Jijing itulah, warga perbatasan daerah Depok-Bogor, senang pada Pak Jijing.
Malam itu, saya dapat jatah menemani Ibu. Di meja saya lihat sejumlah penganan khas Imlek. Kue keranjang dan kue bulan. kata Ibu, dari Pak Jijing. “Setiap Imlek, Pak Jijing selalu bagi-bagikan kue khas itu ketetangga.”
Saya suka dengan kue ini. Seperti dodol, jika dipotong kecil-kecil dinikmati sambil minum teh, enak sekali. Malam itu, saya nikmati kue keranjang Pak Jijing.
Bukan sekadar enaknya khas kue keranjang yang bermerek Hoki, tapi saya ingat (dikit) sejarah kue itu. Konon ada seorang perempuan bernama Nyonya Po yang baik hati terhadap tetangga-tetangganya. Ia sering membagikan makanan karena ia pintar masak. Bahkan, Nyonya Po masih memberikan kebaikan pada mantan suaminya, di kala kondisi di daerahnya mengalami kelaparana yang hebat. Berita kebaikan Nonya Po santer kemana-mana hingga Dewa Dapur yang ditugaskan untuk membawa berita ke Raja Langit, terkesan dengan hidangan yang disuguhan pada dirinya dengan kue itu.( kira-kira begitulah cerita singkatnya).
ah, saya menikmati kue keranjang itu, menikmati kesenangan Pak Jijing yang merayakan Imlek dan menikmati kebaikan tetangga ibu yang dikenal baik oleh warga kampung perbatasan Depok – Bogor tempat Ibu saya tinggal.
Terima kasih pak Jijing, Gong xi fat cai ya….
Kata Hati
Ini cerita tentang Jeremi. Seorang yang masih muda. Seorang yang keliatannya seperti pribadi yang tidak menyenangkan karena selalu cemberut, suka ngedumel, dan selalu menegur orang lain, meski akibatnya harus dimusuhi orang lain. Jeremi memang punya pengalaman yang tidak menyenangkan karena suka menegur orang. Waktu itu Jeremi pernah dipasung oleh petinggi Pasyur. Bahkan, yang lebih buruk, ia pernah menyesali kenapa ia dilahirkan ke dunia, gila! Membayangkan keluhan Jeremi, pastilah berat. Hidup dalam tekanan yang besar melebihi usianya. Meski suka ngeluh, ada yang disaluti dari dirinya, ia setia. Ketika ia mengeluh, ia tahu, sang Khalik mendengarnya dan peduli padanya! Bahkan, sang Khalik tidak pernah marah atau kehilangan sabar menghadapi dan mendengarkan keluhan Jeremi. Itu yang membuat Jeremi terhibur dalam keluhannya. Dalam perjumpaannya dengan sang Khalik, Jeremi kemudian tahu, meski ia melawan sendiri, meski keluahannya banyak dan tegurannya tidak didengar orang, kata hartinya bilang, ia tidak boleh berkhianat. Meski seringkali tidak mengetahui maksud sang Khalik, namun ia tidak hilang akal dan kata hatinya tak pernah ragu. Terima kasih Jeremi, kata hati menghibur saya.
